Jumat, 21 November 2014

Puisi

Sabtu Pagiku Marah
Oleh: Dian Purnomo
Sabtu pagiku marah
Merah merkah terhadap pelanggar larangan
Sakit badanmu harus berbaring saja
Tak usah beranjak menuju yang tak tertuju
Simpan saja energi itu sebegai semboyanmu esok hari
Lancang,
Lancang itu menamparku
Menjadi pudar peduli dalam buli buliku tadi
Di sini bulian itu mengharap untuk tetap tenang dan memanggil sehat
Tapi apalah didaya
Tetap kukuh dinda di rencana pelancongmu
Pergilah sana
Daku duduk diam tak menyentuh
Tetap mendo’a mengharap jiwa sehat merangkul tubuh itu

Rumah Cerita, 121014

(Puisi-puisi ini telah dimuat di Rubrik Cemerlang Waspada, 16 November 2014)

Sabtu, 01 November 2014

Puisi

Di Bibir Pantai Losari

Oleh: Dian Purnomo
Keindahan ciptaan tuhan
Menciptakan hamparan pantai yang teruntai
Hamparan pasir dan pohonan rindang
Yang ku tatap di bibir pantai losari
Relungku seakan terhempas
Dalam gulungan ombak terlepas
Nafas sejuk menusuk dada
Sembari menerjang kegaduhan jiwa
Duduk sendiri memandang lirih
Menatap damai di bibir pantai losari
Ingin kusampaikan padamu kasih
Kukan setia menunggumu di sini
Rumah Cerita, 02-11-14

Angin

Oleh: DianPurnomo
Sedang apa angin ini
Menghembus di lingkar pundakku
Membelai lembut seperti gigitan induk kucing mengangkat anaknya
Terasa dingin
Hingga terbangun rumput kuduk yang sedang tertidur pulas
Jemariku tak tinggal diam menatap angin rusak itu
“Hey, apa mau mu?”
“Dimana otak kepalamu?”
Etikamu tak terpelihara oleh indukmu
Di omong kosong dalam hatimu
Bisu, busuk membau

Rumah Cerita, 01-11-14


(Puisi-puisi ini telah dimuat di Rubrik Cemerlang Waspada, 09 November 2014)

Naskah Drama

Sial Membawa Cinta


            Ini adalah kisah tentang seorang remaja yang selalu sial dalam hidupnya. Namun, siapa sangka di balik itu semua ia dapat berjumpa dengan kekasih tambatan hatinya. Namanya Raydianto. Tapi, dia lebih suka dipangggil dengan sebutan Ray. Katanya sih supaya kelihatan lebih maco.
            Lihatlah!!
            Di senin pagi, pukul 06.00 WIB Ray masih terlelap di kasurnya. Tiba-tiba…
Jam weker mengusik tidurnya.
            Kriiiinggg….
Ray               : “Alah, konser pula weker nih.”
Ketika itu Ray bermimpi berada di sebuah taman yang indah, penuh bunga. Kini, Rei tengah duduk bersama sesosok cewek manis. Ah, siapa ya itu?
Adegan berikutnya adalah adegan paling lebay bila dilakukan oleh sepasang kekasih. Ray curi-curi pandang ambil kesempatan memegang tangan Ayu. Kemudian, main kejar-kejaran. Mirip banget film india. Ketika Ray ngumpet di balik semak-semak. Tampak jelas wajah Ayu yang bingung cari-cari Ray.

Ayu                 : “Ray… Ray…”
Ayu                 : “Ray… Ray….”
Finna               : “Ray… Ray… Ray…” (Kaget, suara Ayu berubah cempreng) “Rraaaayyy!!!”
Finna               : “Niat mau kuliah nggak, sih? Bangun dong.”
Finna               : “Heh? Udah dibanguni dari tadi atuh abang. Abangnya kagak bangun-bangun. Tidur pun udah macem mayat. Logat mau pake weker, yang ada tuh weker yang meledak. Bisa pula dari atas kepala pindah ke kaki tuh weker. ‘kan udah parah namanya. Sejak kapan coba tuh weker bisa jalan? Telat baru tau rasa, eh iya udah telat ya?”
            Tak tahan mendengar ocehan sepupunya yang super duper panas nan galak. Ray cepat-cepat ke kamar mandi. Mandinya juga ngasal banget, yang penting dari ujung  rambut sampai ujung kaki basah. Tahu deh udah sabunan atau belum. Kita ‘kan enggak ngintip.
            Sekarang udah jam 08.45 WIB. Para siswa yang berada di kelas tengah mengikuti perkuliahan Pak Ben. Pak Ben terkenal dengan kebengisannya. Dosen galak nan bengis ini teramat ditakuti oleh semua siswanya.
Pak Ben           : “Seperti yang kita ketahui bahwa antropologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu antropos manusia dan logos adalah ilmu. Antropologi pertama kali dijumpai dalam bahasa Inggris tentang alam manusia yang membagi dua persoalan atas dua bahagian. Yaitu, siapa yang tau?”
            (Tanyanya, parasiswa hanya terdiam.)
Pak Ben           : “Bah, tak ada yang tau? Tugas sama kalian di rumah itu, ya.” (para siswa mendesah) “Sekarang kalian catat buku itu halaman 12 sampai 15.”
            Di luar kelas, tanpa diketahui siapa pun termasuk Pak Ben. Ray tampak sibuk dan ketakutan ketika ingat kalau dosen pertama yang masuk adalah Pak Ben. Ray pun berdo’a dengan khusuknya,
Ray                  : “Alamak. Telatnya ama Pak Ben pula lah. Si bengis bin sadis bin Abdullah. Bah, bah, bah. Habislah awak ni. Selamat enggak ya awak dalam pertempuran. Oh, sebelum masuk kelas ada baiknya baca do’a dulu. Ya allah, do’a kan saya selamat dalam pertempuran. Buatlah suasana hati bapak itu berseri, bersinar, bahagia, berdaulat, adil dan makmur. Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih. Lho. Kok makasih ya? Oh iya, satu lagi ya Allah ampunilah dosa-dosa saya, Pak Ben dan teman-teman sekalian dunia akhirat. Aamin.”
            Setelah mantap akan do’anya ia memberanikan diri melangkahkan kaki masuk ke dalam kelas.
            Tok… Tok…
Ray                  : “Permisi Pak.”
Pak Ben           : “Bah, apanya kau. Permisi-permisi. Masuk sini kau.”
Ray                  : “Alamak, kayaknya tak ada harapan untuk bertahan hidup.”
Pak Ben           : “Kenapa kau terlambat hah?”
Ray                  : “Anu… Pak. Anu… Itu…”
Pak Ben           : “Anu… anu… kenapa anu kau?”
Ray                  : “Hah? Enggak Pak. Enggak apa-apa. Tan… tan…”
Pak Ben           : “Bah, kau kalo ngomong yang jelas.”
Ray                  : “Tanjung macet Pak.”
Pak Ben           : “Bah, baru tau pula aku Tanjung bisa macet. Hah, udahlah malas pula aku bicara-bicara sama kau. Mana tugasmu?”
Ray                  : “Hehehe,” (Menggaruk kepala) “Tuagas mah gampang Pak. Aman, terkendali. Dudah selesai saya kerjakan. Udah saya kerjakan tadi malam.” (Tersenyum melihat isi tasnya. Kosong. Senyumnya berubah muram.)
Pak Ben           : “Hah! Mana tugas kau?”
Ray                  “(Kikuk) “Hehehe, maaf Pak. Kayaknya tugasnya jatuh di jalan lah.”
            (Seisi kelas tertawa)
Pak Ben           : “Husstt. Diam semuanya dan kau baru tau pula aku ada tugas yang bisa jatuh di jalan. Kemarikan tas kau, biar saya yang cari kan.” (Heran ketika melihat isi tasnya) “Bah, macam mananya kau? Mana ada tugas jatuh di jalan, tasmu bolong saja tidak. Kosong iya!!”
            (Seisi kelas kembali tertawa)
            Lalu…
            Tok… tok… tok….
Ayu                 : “Pagi Pak.”
Pak Ben           : “Bah, kau pun juga? Masuk!!”
Ayu                 : “Makasih Pak.” (Berjalan ke arah kursinya.)
Pak Ben           : “Bah, mau kemana kau? Sini kau!”
Ayu                 : “I… iya Pak. Kenapa Pak?”
Pak Ben           : “Kenapa kau terlambat?”
Ayu                 : “Terkunci di kamar mandi, Pak.”
Pak Ben           : “Bah, bah, bah. Ada-ada sajanya kau ini. Mana tugas kau?”
Ayu                 : “Basah Pak.”
Pak Ben           : “Kenapa bisa?”
Ayu                 : “Saya mandikan Pak. Habisnya tugasnya belum mandi, sih.”
            (Seisi kelas tertawa)
Mai                  : “Peliharaan kali Yu pake acara di mandikan segala.”
Ayu                 : “Niatnya mau di bawa juga peliharaan awak Mai.”
Pak Ben           : “Hussstt. Diam kalian dan untuk kalian berdua duduk sana. Muak saya liat kalian. Saya berdo’a supaya cepat-cepat pensiun.”
Ray                  : “Lho, napa gitu Pak?”
Pak Ben           : “Kalau semua siswa saya anehnya seperti kalian ini bisa mati berdiri saya kalian buat! Lanjutkan tugas kalian!”
Seluruh Siswa : “Iya Pak.”
            Setelah usai mata kuliah Pak Ben, para siswa beristirahat. Semua orang berpencar mulai dari kantin, lapangan atau perpustakaan. Namun, saat itu Ray tidak ikut ngumpul dengan teman-temannya melainkan mencari Ayu ke seluruh penjuru tempat dan tak sengaja melihatnya sedang sibuk bermain handphone dan makan gorengan di kantin. Duh, ada apa gerangan ya?
Ray                  : “Eh, Ayu. Di cariin juga. Kirain di lapangan rupanya disini.”
Ayu                 : “Emang ngapai Ayu di lapangan?”
Ray                  : “Kirain konser.”
Ayu                 : “Ih, apanya abang ni? Ya enggaklah kurang kerjaan.” (Mencubit pelan pinggang Ray)
Ray                  : “Kan mana tau. Adu.. duh… sakit tapi enak. Eh iya Ayu kok cantik kali sih hari ni? Lihat nih bajunya. Hadeh, bagusnya, cerah lagi secerah hati abang hari ini lho.”
Ayu                 : “Ih, gombal.”
Ray                  : “Kok gonbal pula? Enggak lho beneran! Apa lagi lihat senyumnya Ayu yang. Ah, ah, ah… mempesona kali. Tak tahan abang dek, manis kali. Manisan apel, durian, salak, manggis, buah naga, terong, jengkol pun kalah.”
Ayu                 : “Ah, masa sih?”
Ray                  : “Iya lho. Tapi Yu, sebenarnya awak mau bilang something yang special completely ordinary nih sama Ayu.”
Ayu                 : “Oh ya? Apa?”
Ray                  : “Cuma mau bilang. Duh, gimana ya bilangnya? Malu!”
Ayu                 : “Enggak apa bilang aja, kenapa harus malu?”
Ray                  : “Sebenarnya awak mau bialng kalo awak….” (Kata-katanya terhenti)
Finna               : “Oi bang. PR tu kalo udah siap dikerjakan letakkan di tempat yang benar dong. Lihat nih, tugas punya abang kenapa pula letakkannya di tas awak? ‘kan salah kaprah jadinya. Rugi sendiri ‘kan tadi dimarahi ama Pak Ben.” (Omelnya)
Ray                  : “Ih, si Finna ni lah. Ganggu orang aja. iya-iya maaf, namanya juga khilaf. Pergi sana!”
Finna               : (Berjalan keluar) “Bukannya bilang terima kasih malah ngusir pula. Makanya lain kali itu mesti pintar-pintar bedakan tas cewek ama tas cowok. Cemananya, buat susah orang aja. untungnya awak sepupumu yang ba….”
            Bruuuukkk…
Finna               : “Aduh…”
Ray                  : “(Tertawa) oi, lain kali kalo jalan tuh mata liat ke depan jangan ke samping.”
Finna               : “Hussstt. Diamlah. Berisik! Ini lagi. Siapa sih yang letak pintu disini? Perasaanku mengatakan semalam belum ada lah pintu di letak disini.” (Pergi keluar)
Ray                  : “Oi, dari jaman bronto saurus juga tuh pintu udah nempel di situ. Dia yang nabrak, salahkan pintu pula. Dada-dada aja!!”           
Ayu                 : “Oh iya, tadi kamu mau bilang apa Ray?”
Ray                  : “Aku mau bilang. Boleh enggak kalau aku…. Aku…”
Ayu                 : “Apa?”
Ray                  : “Boleh enggak aku pinjam uang?”
Ayu                 : “Heh? Pinjam uang?”
Ray                  : “Husstt. Jangan lah kuat-kuat juga ngomongnya Yu, malu didenger orang. Please, pinjamin dong lagi butuh nih.”
Ayu                 : “Beuh, kirain tadi mau bilang hal yang penting.”
Ray                  : “Lah, ini ‘kan penting juga sih Yu. Ada nggak?”
Ayu                 : “(Berdiri) enggak ada, Ayu lagi bokek. Krisis moneter tahu.” (Pergi meninggalkan kantin)
            Setelah selesai jam istirahat dosen yang telah ditunggu-tunggu ketidakhadiraannya pun tiba. Pak Pur namanya. Beliau salah satu dosen yang sudah berusia lanjut. Namun, hampir tak pernah pula ia absen setiap kali mengajar. Hebatnya para siswa selalu membawa senjata rahasia. Apa aja ya?
Pak Pur            : “Assalamu’alaikum.” (Ujarnya ketika memasuki pintu)
            Seisi kelas sudah Nampak sibuk dengan semua alat persenjataan mereka. Dimulai dari tutup panci, masker, kaca mata, payung dan tisu.
Seluruh Siswa : “Wa’alaikum salam.”
            Lalu…
            Tok… tok…
Dani                : “Assalamu’alaikum, permisi Pak. Boleh masuk.”
Pak Pur            : “Wa’alaikum salam. Masuk.”
Anisa               : “Makasih Pak.”
Pak Pur            : “Eits, ke sini dulu sebentar.”
Dani                : (Berbisik) “Hadeh, mati lah kita nih Sa. Kena semburan maut!”
Anisa               : “Duh, diam dulu Kak. Lagi konsentrasi nih pada serangan maut. Kita ‘kan nggak ada senjata. Senjata kita masih di kursi.
Dani                : “Ah, malasnya!”
Pak Pur            : “Kenapa terlambat?”
Anisa               : (Menutup wajah dengan jilbab) “Maaf Pak, kami dari toilet.”
Pak Pur            : “Apa?” (Air liurnya bercipratan mengenai mereka)
Anisa               : “Dari toilet Pak.”
Pak Pur            : “Hah?”
Anisa               : “Ya Allah, dari toilet lho Pak!!!” (Bentaknya)
Pak Pur            : “Oh, kamu berani bentak saya ya?”
Dani                : “Pak…”
Pak Pur            : “Apa? Kamu mau bela-belain teman kamu ini?”
Dani                : “Enggak Pak. Tolong bibirnya di lap dulu Pak. Air liurnya berselemak gitu ‘kan ganggu.”
Pak Pur            : “Oh iya, saya lupa.” (Mengambil sapu tangan lalu mengelap bibirnya.) “Lain kali jangan telat, ya.”
Anisa               : “Iya Pak.”
Pak Pur            : “Ya sudah, kalian boleh duduk.” (Melihat ke belakang) “Siapa yang ketawa-ketawa di belakang?”
Ray                  : “Dia Pak.” (Menunjuk ke arah Mai)
Mai                  : “Oi, wa. Awak di depan kali!!”
Ray                  : “Oh iyanya? Lupa saya! Dia Pak.” (Nunjuk ke arah Ayu)
Pak Pur            : “Hey kamu Ray. Tidak usah kamu menyalahkan orang lain. Salahkan dirimu sendiri. Kenapa kamu ribut-ribut?”
Ray                  : “Maaf Pak saya lupa. Tentang… tentang makalah Pak.”
Pak Pur            : “Oh, kalau tentang makalah tak apa. Saya maafkan. Ngomong-ngomong tentang makalahmu Ray, saya ‘kan sudah pernah bilang bagaimana cara penyusunannya yang baik dan benar. Punya kamu itu lain dari yang lain toh.”
Ray                  : “Kenapa Pak? Terlihat spesial di mata bapak, ya?”
Pak Pur            : “Spesial? Spesial apanya? Salah iya. ‘kan sudah saya  bilang urutan bab dua itu isi bukan penutup. Kamu malah buatnya terbalik, bab dua penutup, bab tiga isi. Harusnya bab dua isi dan bab tiga penutup. Wong edan. Perhitungan kamu dalam makalahnya juga salah, aduh gimananya kamu ini Ray, Ray.”
Ray                  : “Pak”
Pak Pur            : “Apa? Kenapa kamu tutuo-tutup muka?”
Ray                  : “Basah Pak.”
Pak Pur            : “Oh, maaf. Saya lupa.” (Mengelap bibirnya dengan lap) “Kalau tidak begini saja. Biar saya tes kamu cara perhitungan yang cepat. Biar kamu cepat tanggap. 3x3, 3x6, 78x8, 4x120, 80x120:89-0+70-5 berapa?”
            (Ray hanya bengong)
Pak Pur            : “Kalau tidak begini saja, 5xtamboh sama dengan?”
Ray                  : “Nah, kalau itu saya tau Pak. Kenyang ‘kan jawabannya.”
Pak Pur            : “Kalau itu enggak heran saya.”
Ray                  : “Hehehe. Soal makalah itu Pak? Maaf ya Pak. Saya silap kemarin waktu buatnya Pak.”
Pak Pur            : “Oh, kalo silap tak apa, saya maafkan. Lain kali jangan dibuat lagi ya.”
Ray                  : “Iya Pak. Oh iya Pak satu lagi.”
Pak Pur            : “Apa?”
Ray                  : (Menghindar) “Tolong di lap dulu bibirnya. Muncrat ke mana-mana kayaknya.”
Pak Pur            : “Oh iya, saya lupa.”
            Ketika jam perkuliahan telah selesai sebagian dosen dan siswa pulang. Ketika Pak Pur hendak pulang, di kantin depan ia melihat Pak Ben sedang duduk sendirian sambil bermain handphone. Pak Pur mendekatinya lalu mengurungkan niatnya sesaat untuk pulang ke rumah.
Pak Pur            : “Sendirian aja toh Pak Ben.”
            (Pak Ben melongo melihat handphonenya tiba-tiba saja sudah ada air yang mencipratinya. Setelah ia tahu asal suara itu, tak heran siapa orangnya. Dia hanya bisa melongo.)
Pak Ben           : “Iya Pak Pur. Bapak nampaknya mau pulang.”
Pak Pur            : “Tadinya iya Pak. Tapi, melihat bapak duduk sendiri di sini jadi enggak tega saya. Biar saya temani sebentar.”
Pak Ben           : “Ah, tak usah lah Pak. Bapak pulang saja.”
Pak Pur            : “Oh, tak apa lah Pak. Enggak usah segan-segan.”
Pak Ben           : (Tersenyum meringis) terserah Bapak saja lah.”
Mba Atul         : “Mau pesan apa Pak Dosen?”
Pak Pur            : “Oh, ada apa saja toh Mba?”
Mba Atul         : “Banyak. Mau makanan atau minuman?”
Pak Ben           : “Saya minuman. Ada minuman apa aja Mba?”
Mba Atul         : (Menarik nafas) Air putih ada, teh manis ada, teh pahit, TST, teh panas, teh dingin, teh tarik, teh celup juga ada. Es kosong ada, es manis ada, es krim ada, es teller, es buah juga ada. Kopi panas, kopi dingin, kopi susu, kopi luak, kopi saschet, es kopi blend, kopi tawar juga ada. Susu tawar ada, susu kaleng, susu saschet, susu bubuk, susu kedelai, susu sapi, susu bear brend, susu coklat dingin, panas juga ada. Mau yang mana?”
            (Pak Ben dan Pak Pur hanya bisa bengong sesaat)
Pak Pur            : “Saya pesan susu coklat dingin aja toh Mba.”
Mba Atul         : “Satu aja Pak dosen?”
Pak Ben           : “Saya juga.”
MbaAtul          : “Oke. Jadinya dua ya Pak. Sebentar ya Pak.”
Pak Ben           : “Iya Mba. Pak, Pak Ben kok mirip film Upin, Ipin yang sering ditonton sama anak saya ya Pak.”
Pak Ben           : “Biasa itu Pak.”
Pak Pur            : “Haduh….”
Pak Ben           : “Kenapa Pak.”
Pak Pur            : “Iya, eeee….”
Pak Ben           : “Oh iya. Kalo si Ray memang beangkerok di kelas Pak. Jadi tak usah heran.”
Pak Pur            : “Lho, bapak kok bisa tahu saya ceritakan dia?”
Pak Ben           : “Terlihat jelas di wajah Bapak.”
Pak Pur            : “Dia itu betul-betul biang keladi plus biang minyak wangi Pak. Sebelumnya saya udah pernah kasih tahu bagaimana cara penyusunan makalah yang benar. Tapi tetap saja tidak ada perubahan. Ter....”
Pak Ben           : “Hussst…tolong di lap Pak. Hujan”
Pak Pur            : “Oh iya, saya lupa. Terus saya juga udah kasih tahu rumus.”
Pak Ben           : “Rumus? Rumus apa itu Pak?”
Pak Pur            : “Rumus perhitungan 3x3, 3x6, 78x8, 4x120, 80x120:89-0+70-5 berapa? Dia tak tahu juga.”
Pak Ben           : “Bah, terus.”
Mba Upe         : “Permisi, ini susunya Pak.”
Pak Pur            : “Makasih toh Mba. Ayo Pak, silahkan di minum.” (Tanpa sengaja saat berbicara tadi air liur Pak Pur muncrat ke susunya Pak Ben.) “Terus ya saya tanya lagi lima kali tamboh sama dengan apa. Bapak tahu? Ya kenyang toh Pak.”
Pak Ben           : “Pak Pur, kayaknya susu saya udah enggak steril, higienis, bermutu dan terjamin kesehatannya. Udah tercemar sama hujan lokal.”
Pak Pur            : “Enggak hujan kok Pak Ben, sekali-sekali diminum juga ‘kan enggak apa Pak biar sehat. Oh iya, Bapak tahu nggak bapak saya dulu pernah foto bareng sama Soekarno masa penjajahan dulu lho, beliau juga kenal sama Meriline Monrow.”
Pak Ben`         : “Bah, bah, bah. Apanya Bapak ini, tadi rumus tak jelas, lima kali tamboh kenyang, biang keladilah, ini foto-foto sama Soekarno pula. Pake acara kenal Meriline Monrow. Saya pacarnya Monrow. Cerita tak nyambung yang ada sambung menyambung. Sekarang susuku pula kena vitamin Z darimu. Bisa over dosis lah aku kau buat. Pur… Pur…”
Pak Pur            : “Lho, mau kemana Pak Ben? Saya belum selesai bicara toh Pak.
Pak Ben           : “Pergi jauh-jauh.”
Pak Pur            : “Susunya di bayar dulu lho Pak.”
Pak Ben           : “Susuku bayarnya sama mu. Aku belum minum udah kau kasih gas beracun.”
Pak Pur            : “Pak. Tunggu saya, saya mau lanjutkan ceritanya lho.”
Mba Atul         : “Pak, Pak. Susuku, susuku belum di bayar.”
Pak Pur            : “Susuku bayar pake susumu dulu.”
Mba Atul         : “Rugi lagi toh.”
Mba Upe         : “Kenapa sih Mba kok ngomel-ngomel sendiri.”
Mba Atul         : “Dosen-dosen tadi pada enggak bayar susu kita.”
Mba Upe         : “Oh, enggak bisa dibiarkan ini. Mentang-mentang dosen mau hutang gratisan. Hey, Pak dosen. Bayar dulu susu-susu kami. Susu kami mahal lho. Bisa rugi. Oi, bayar susuku…”
Ray                  : “Apalah ibu nih. Susu-susuan.”
            Di parkiran depan kampus tampak Mai sedang menunggu Ray karena sudah janjian akan pulang bareng. Namun, di seberang jalan tampak seorang preman yang diragukan kepremanannya tengah memperhatikan Mai dan tas miliknya yang diselempangkan di sebelah kanan begitu saja.
            Sang preman memperhatikan jalanan yang lenggang dan sepi lalu mendekati wanita itu. Hm, ada apa ya?
Bayu                : “Mau pulang ya kak?”
Mai                  : “Iya bang.”
Bayu                : “Nunggu temannya?”
Mai                  : “Iya.”
Bayu                : “Cewek apa cowok?”
Mai                  : “Cowok.”
Bayu                : “Oh, yang itu ya?”
Mai                  : “Mana?”
            Sreeeettt…
            Dengan satu tarikan mulus tasnya di rampas oleh sang preman.
Mai                  : “Oi, copet woi. Tolong, tolong.”
            Tiga langkah berlari sang copet tergelincir, ketika akan bangkit ia kembali terjatuh.
Mai                  : “Hah! Makanya jangan lari-lari, jatuh ‘kan? Tu lah jangan beraninya sama tasnya aja, orangnya nih hadapi.”
Bayu                : “Ampun Kak. Ampun..”
Mai                  : “Dasar! Sweper.”
Bayu                : “Heh? Sweper? Sapa tuh? Merek makanan ya kak.”
Mai                  : “Bukan! Sweper tu pencuri jahat di filmnya Dora the explorer lho.”
Bayu                : “Oh. aduh.. Ampun. Eh, kak kawannya mannggil tuh.”
Mai                  : “Mana? Yah, tuh copet lari. Sialan tuh copet. Bahaya nih kalo misalnya masih nunggu si Ray disini. Sorry ya Ray, awak balik diluan. Dari pada awak dicopet lagi.”
            Di kantin Ray duduk sendirian meratapi milk shakenya. Ayu yang tak sengaja melihatnyalalu mendekatinya dan duduk di depannya.
Ayu                 : “Ngapai? Sendirian aja?”
Ray                  : “Enggak ngapa-ngapai lagi suntuk aja. Tadinya sih nungguin si Mai, tapi tuh anak entah kemana.”
            Ketika Ayu dan Ray sedang asyik ngobrol. Sang preman tak sengaja lewat dan melihat dompet Ray. Ia pun mendekati ray dan duduk di belakangnya. Diam-diam tangannya menarik dompet itu dari sakunya.
Bayu                : “Sasaran empuk kedua kalinya. Wehehehe.”
            Setelah berhasil mengambil dompet dari saku Ray sang preman pun pergi dari tempat itu.
Ray                  : “Lho, kok cepat kali baliknya bang? Enggak pesan dulu?”
Bayu                : “Ah, enggak. Cuma duduk bentar a…”
            Bruuuukkk….
            Ia menabrak tiang di depannya karena tidak melihat ke depan ketika berjalan. Mereka tertawa.
Ayu                 : “Owalah, hati-hati makanya bang, kalo jalan.”
Bayu                : “Oh, iya Kak. Aduh.. aduh.. kok bisa sial sampe dua kali lah ya. Sial… sial..!?”
Ray                  : “Pulang yok Yu.”
Ayu                 : “Oh, ya udah. Ayo.”
Ray                  : “Lho, dompet awak mana ya Yu?”
Ayu                 : “Di kantong celana?”
Ray                  : “Enggak ada Yu..”
Ayu                 : “Di tas?”
Ray                  : “Enggak ada juga. Alah lah, kemana lah tuh dompet larinya. Udah enggak betah lagi sama awak ya. Entah apa lah nih dompet, pake acara ngilang segala macam jin tomang.”
Ayu                 : “Pinjam uang Ayu aja dulu.”
Ray                  : “Enggak enak lah Yu. Cemana lah ongkos ancot awak ya.”
Ayu                 : “Udah, enggak apa. Dari pada pulang jalan. Hayo, pilih mana?”
Ray                  : “Oh, iya juga. Iya deh, tapi ikhlas ‘kan?
Ayu                 : “Iya, ikhlas.”
            Dua bulan kemudian, hal mengejutkan pun terjadi. Saat-saat yang paling mendebarkan dan paling di tunggu-tunggu oleh semua orang. Duh, apa ya itu?
Finna               : “Semuanya siap-siap, kembali ke posisi.”
Dani                : “Jangan nafas, jangan nafas.”
Anisa               : “Huss, kalo kita enggak nafas. Mati semua atuh akak. Cemewew”
Dani                : “Oh iya, lupa. Hehee.”
Mai                  : “Bersikap seperti biasa.”
Ray                  : “Ayu, aku mau ngomong something penting nih.”
Ayu                 : “Mau pinjam uang?”
Ray                  : “Heh? Pinjam uang? Bukan pinjam uang  Ayu. Awak mau bilang, kalo. Hm, Ayu.”
Ayu                 : “Ngajakin pulang bareng?”
Ray                  : “Bukan! Hadeh, Ayu yang ngomong apa awak yang ngomong nih?”
Ayu                 : “Hehehehe, Ray aja deh.”
Ray                  : “Yu, Ayu mau nggaj jadi pacar awak?”
Ayu                 : “Hm, gimana ya. Maaf ya, soalnya selama ini aku udah suka sama orang lain.”
Ray                  : “Oh, gitu ya? Maaf ya.”
Ayu                 : “Kamu tahu nggak siapa cowok itu Ray?”
Ray                  : “Enggak, emangnya sapa? Tapi itu nggak penting. Yang penting sekarang, semoga kamu bahagia sama dia ya.”
Ayu                 : “Ih, gimana sih. Enggak liat sinyal ya?”
Ray                  : “Sinyal di hp aku penuh kok, enggak ada gangguan. Emangnya sinyal di handphone Ayu enggak ada ya?”
Ayu                 : “Ih, oon banget sih. Sinyal cinta lho. Orang yang aku suka itu kamu. So, aku mau kok jadi pacar kamu. Tapi kenapa nih bunga cuma tangkainya doang sih?”
Ray                  : “’Kan kamu udah jadi bunganya,”
Ayu                 : “Ih, gombal.”
Seluruh siswa : “ Selamat ya. Huhuyy.”
Pak pur            : “Hey. Ada apa ini ribut-ribut?”
Ray                  : “ini Pak, ada yang  jadian.”
Dani                : “Owalah, Ray… Ray… kau yang ja…”
Pak Pur            : “Siapa? Siaapaa yang jadiaaaaann!!”

Seluruh Siswa : “Sssssiiiiiaaaallll…”

(Karya: Mahasiswa PBSID C, STKIP Budidaya Binjai T.A. 2013/2014)