Sial Membawa Cinta
Ini adalah kisah tentang seorang remaja yang selalu sial dalam hidupnya. Namun,
siapa sangka di balik itu semua ia dapat berjumpa dengan kekasih tambatan
hatinya. Namanya Raydianto. Tapi, dia lebih suka dipangggil dengan sebutan Ray.
Katanya sih supaya kelihatan lebih maco.
Lihatlah!!
Di senin pagi, pukul 06.00 WIB Ray masih terlelap di kasurnya. Tiba-tiba…
Jam weker mengusik tidurnya.
Kriiiinggg….
Ray :
“Alah, konser pula weker nih.”
Ketika itu Ray bermimpi berada di sebuah
taman yang indah, penuh bunga. Kini, Rei tengah duduk bersama sesosok cewek
manis. Ah, siapa ya itu?
Adegan berikutnya adalah adegan paling
lebay bila dilakukan oleh sepasang kekasih. Ray curi-curi pandang ambil
kesempatan memegang tangan Ayu. Kemudian, main kejar-kejaran. Mirip banget film
india. Ketika Ray ngumpet di balik semak-semak. Tampak jelas wajah Ayu yang
bingung cari-cari Ray.
Ayu
: “Ray…
Ray…”
Ayu
: “Ray…
Ray….”
Finna
: “Ray… Ray…
Ray…” (Kaget, suara Ayu berubah cempreng) “Rraaaayyy!!!”
Finna
: “Niat mau
kuliah nggak, sih? Bangun dong.”
Finna
: “Heh? Udah
dibanguni dari tadi atuh abang. Abangnya kagak bangun-bangun. Tidur pun udah
macem mayat. Logat mau pake weker, yang ada tuh weker yang meledak. Bisa pula
dari atas kepala pindah ke kaki tuh weker. ‘kan udah parah namanya. Sejak kapan
coba tuh weker bisa jalan? Telat baru tau rasa, eh iya udah telat ya?”
Tak tahan mendengar ocehan sepupunya yang super duper panas nan galak. Ray
cepat-cepat ke kamar mandi. Mandinya juga ngasal banget, yang penting dari
ujung rambut sampai ujung kaki basah. Tahu deh udah sabunan atau belum.
Kita ‘kan enggak ngintip.
Sekarang udah jam 08.45 WIB. Para siswa yang berada di kelas tengah mengikuti
perkuliahan Pak Ben. Pak Ben terkenal dengan kebengisannya. Dosen galak nan
bengis ini teramat ditakuti oleh semua siswanya.
Pak
Ben : “Seperti yang
kita ketahui bahwa antropologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu antropos
manusia dan logos adalah ilmu. Antropologi pertama kali dijumpai dalam bahasa
Inggris tentang alam manusia yang membagi dua persoalan atas dua bahagian.
Yaitu, siapa yang tau?”
(Tanyanya, parasiswa hanya terdiam.)
Pak Ben
: “Bah, tak ada yang tau? Tugas sama kalian di rumah itu, ya.” (para siswa
mendesah) “Sekarang kalian catat buku itu halaman 12 sampai 15.”
Di luar kelas, tanpa diketahui siapa pun termasuk Pak Ben. Ray tampak sibuk dan
ketakutan ketika ingat kalau dosen pertama yang masuk adalah Pak Ben. Ray pun
berdo’a dengan khusuknya,
Ray
: “Alamak. Telatnya ama Pak Ben pula lah. Si bengis bin sadis bin Abdullah.
Bah, bah, bah. Habislah awak ni. Selamat enggak ya awak dalam pertempuran. Oh,
sebelum masuk kelas ada baiknya baca do’a dulu. Ya allah, do’a kan saya selamat
dalam pertempuran. Buatlah suasana hati bapak itu berseri, bersinar, bahagia,
berdaulat, adil dan makmur. Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih. Lho.
Kok makasih ya? Oh iya, satu lagi ya Allah ampunilah dosa-dosa saya, Pak Ben
dan teman-teman sekalian dunia akhirat. Aamin.”
Setelah mantap akan do’anya ia memberanikan diri melangkahkan kaki masuk ke
dalam kelas.
Tok… Tok…
Ray
: “Permisi Pak.”
Pak
Ben : “Bah, apanya
kau. Permisi-permisi. Masuk sini kau.”
Ray
: “Alamak, kayaknya tak ada harapan untuk bertahan hidup.”
Pak
Ben : “Kenapa kau
terlambat hah?”
Ray
: “Anu… Pak. Anu… Itu…”
Pak
Ben : “Anu… anu…
kenapa anu kau?”
Ray
: “Hah? Enggak Pak. Enggak apa-apa. Tan… tan…”
Pak
Ben : “Bah, kau
kalo ngomong yang jelas.”
Ray
: “Tanjung macet Pak.”
Pak
Ben : “Bah, baru
tau pula aku Tanjung bisa macet. Hah, udahlah malas pula aku bicara-bicara sama
kau. Mana tugasmu?”
Ray
: “Hehehe,” (Menggaruk kepala) “Tuagas mah gampang Pak. Aman, terkendali. Dudah
selesai saya kerjakan. Udah saya kerjakan tadi malam.” (Tersenyum melihat isi
tasnya. Kosong. Senyumnya berubah muram.)
Pak
Ben : “Hah! Mana
tugas kau?”
Ray
“(Kikuk) “Hehehe, maaf Pak. Kayaknya tugasnya jatuh di jalan lah.”
(Seisi kelas tertawa)
Pak
Ben : “Husstt. Diam
semuanya dan kau baru tau pula aku ada tugas yang bisa jatuh di jalan.
Kemarikan tas kau, biar saya yang cari kan.” (Heran ketika melihat isi tasnya)
“Bah, macam mananya kau? Mana ada tugas jatuh di jalan, tasmu bolong saja
tidak. Kosong iya!!”
(Seisi kelas kembali tertawa)
Lalu…
Tok… tok… tok….
Ayu
: “Pagi Pak.”
Pak
Ben : “Bah, kau pun
juga? Masuk!!”
Ayu
: “Makasih Pak.” (Berjalan ke arah kursinya.)
Pak
Ben : “Bah, mau
kemana kau? Sini kau!”
Ayu
: “I… iya Pak. Kenapa Pak?”
Pak
Ben : “Kenapa kau
terlambat?”
Ayu
: “Terkunci di kamar mandi, Pak.”
Pak
Ben : “Bah, bah,
bah. Ada-ada sajanya kau ini. Mana tugas kau?”
Ayu
: “Basah Pak.”
Pak
Ben : “Kenapa
bisa?”
Ayu
: “Saya mandikan Pak. Habisnya tugasnya belum mandi, sih.”
(Seisi kelas tertawa)
Mai
: “Peliharaan kali Yu pake acara di mandikan segala.”
Ayu
: “Niatnya mau di bawa juga peliharaan awak Mai.”
Pak
Ben : “Hussstt.
Diam kalian dan untuk kalian berdua duduk sana. Muak saya liat kalian. Saya
berdo’a supaya cepat-cepat pensiun.”
Ray
: “Lho, napa gitu Pak?”
Pak
Ben : “Kalau semua
siswa saya anehnya seperti kalian ini bisa mati berdiri saya kalian buat!
Lanjutkan tugas kalian!”
Seluruh Siswa : “Iya Pak.”
Setelah usai mata kuliah Pak Ben, para siswa beristirahat. Semua orang
berpencar mulai dari kantin, lapangan atau perpustakaan. Namun, saat itu Ray
tidak ikut ngumpul dengan teman-temannya melainkan mencari Ayu ke seluruh
penjuru tempat dan tak sengaja melihatnya sedang sibuk bermain handphone dan
makan gorengan di kantin. Duh, ada apa gerangan ya?
Ray
: “Eh, Ayu. Di cariin juga. Kirain di lapangan rupanya disini.”
Ayu
: “Emang ngapai Ayu di lapangan?”
Ray
: “Kirain konser.”
Ayu
: “Ih, apanya abang ni? Ya enggaklah kurang kerjaan.” (Mencubit pelan pinggang
Ray)
Ray
: “Kan mana tau. Adu.. duh… sakit tapi enak. Eh iya Ayu kok cantik kali sih
hari ni? Lihat nih bajunya. Hadeh, bagusnya, cerah lagi secerah hati abang hari
ini lho.”
Ayu
: “Ih, gombal.”
Ray
: “Kok gonbal pula? Enggak lho beneran! Apa lagi lihat senyumnya Ayu yang. Ah,
ah, ah… mempesona kali. Tak tahan abang dek, manis kali. Manisan apel, durian,
salak, manggis, buah naga, terong, jengkol pun kalah.”
Ayu
: “Ah, masa sih?”
Ray
: “Iya lho. Tapi Yu, sebenarnya awak mau bilang something yang special
completely ordinary nih sama Ayu.”
Ayu
: “Oh ya? Apa?”
Ray
: “Cuma mau bilang. Duh, gimana ya bilangnya? Malu!”
Ayu
: “Enggak apa bilang aja, kenapa harus malu?”
Ray
: “Sebenarnya awak mau bialng kalo awak….” (Kata-katanya terhenti)
Finna
: “Oi bang. PR tu kalo udah siap dikerjakan letakkan di tempat yang benar dong.
Lihat nih, tugas punya abang kenapa pula letakkannya di tas awak? ‘kan salah
kaprah jadinya. Rugi sendiri ‘kan tadi dimarahi ama Pak Ben.” (Omelnya)
Ray
: “Ih, si Finna ni lah. Ganggu orang aja. iya-iya maaf, namanya juga khilaf.
Pergi sana!”
Finna
: (Berjalan keluar) “Bukannya bilang terima kasih malah ngusir pula. Makanya
lain kali itu mesti pintar-pintar bedakan tas cewek ama tas cowok. Cemananya,
buat susah orang aja. untungnya awak sepupumu yang ba….”
Bruuuukkk…
Finna
: “Aduh…”
Ray
: “(Tertawa) oi, lain kali kalo jalan tuh mata liat ke depan jangan ke
samping.”
Finna
: “Hussstt. Diamlah. Berisik! Ini lagi. Siapa sih yang letak pintu disini?
Perasaanku mengatakan semalam belum ada lah pintu di letak disini.” (Pergi
keluar)
Ray
: “Oi, dari jaman bronto saurus juga tuh pintu udah nempel di situ. Dia yang
nabrak, salahkan pintu pula. Dada-dada
aja!!”
Ayu
: “Oh iya, tadi kamu mau bilang apa Ray?”
Ray
: “Aku mau bilang. Boleh enggak kalau aku…. Aku…”
Ayu
: “Apa?”
Ray
: “Boleh enggak aku pinjam uang?”
Ayu
: “Heh? Pinjam uang?”
Ray
: “Husstt. Jangan lah kuat-kuat juga ngomongnya Yu, malu didenger orang.
Please, pinjamin dong lagi butuh nih.”
Ayu
: “Beuh, kirain tadi mau bilang hal yang penting.”
Ray
: “Lah, ini ‘kan penting juga sih Yu. Ada nggak?”
Ayu
: “(Berdiri) enggak ada, Ayu lagi bokek. Krisis moneter tahu.” (Pergi
meninggalkan kantin)
Setelah selesai jam istirahat dosen yang telah ditunggu-tunggu
ketidakhadiraannya pun tiba. Pak Pur namanya. Beliau salah satu dosen yang
sudah berusia lanjut. Namun, hampir tak pernah pula ia absen setiap kali
mengajar. Hebatnya para siswa selalu membawa senjata rahasia. Apa aja ya?
Pak
Pur :
“Assalamu’alaikum.” (Ujarnya ketika memasuki pintu)
Seisi kelas sudah Nampak sibuk dengan semua alat persenjataan mereka. Dimulai
dari tutup panci, masker, kaca mata, payung dan tisu.
Seluruh Siswa : “Wa’alaikum salam.”
Lalu…
Tok… tok…
Dani
: “Assalamu’alaikum, permisi Pak. Boleh masuk.”
Pak
Pur :
“Wa’alaikum salam. Masuk.”
Anisa
: “Makasih Pak.”
Pak
Pur : “Eits, ke
sini dulu sebentar.”
Dani
: (Berbisik) “Hadeh, mati lah kita nih Sa. Kena semburan maut!”
Anisa
: “Duh, diam dulu Kak. Lagi konsentrasi nih pada serangan maut. Kita ‘kan nggak
ada senjata. Senjata kita masih di kursi.
Dani
: “Ah, malasnya!”
Pak
Pur : “Kenapa
terlambat?”
Anisa
: (Menutup wajah dengan jilbab) “Maaf Pak, kami dari toilet.”
Pak
Pur : “Apa?”
(Air liurnya bercipratan mengenai mereka)
Anisa
: “Dari toilet Pak.”
Pak
Pur : “Hah?”
Anisa
: “Ya Allah, dari toilet lho Pak!!!” (Bentaknya)
Pak
Pur : “Oh,
kamu berani bentak saya ya?”
Dani
: “Pak…”
Pak
Pur : “Apa?
Kamu mau bela-belain teman kamu ini?”
Dani
: “Enggak Pak. Tolong bibirnya di lap dulu Pak. Air liurnya berselemak gitu
‘kan ganggu.”
Pak
Pur : “Oh
iya, saya lupa.” (Mengambil sapu tangan lalu mengelap bibirnya.) “Lain kali
jangan telat, ya.”
Anisa
: “Iya Pak.”
Pak
Pur : “Ya
sudah, kalian boleh duduk.” (Melihat ke belakang) “Siapa yang ketawa-ketawa di
belakang?”
Ray
: “Dia Pak.” (Menunjuk ke arah Mai)
Mai
: “Oi, wa. Awak di depan kali!!”
Ray
: “Oh iyanya? Lupa saya! Dia Pak.” (Nunjuk ke arah Ayu)
Pak
Pur : “Hey
kamu Ray. Tidak usah kamu menyalahkan orang lain. Salahkan dirimu sendiri.
Kenapa kamu ribut-ribut?”
Ray
: “Maaf Pak saya lupa. Tentang… tentang makalah Pak.”
Pak
Pur : “Oh,
kalau tentang makalah tak apa. Saya maafkan. Ngomong-ngomong tentang makalahmu
Ray, saya ‘kan sudah pernah bilang bagaimana cara penyusunannya yang baik dan
benar. Punya kamu itu lain dari yang lain toh.”
Ray
: “Kenapa Pak? Terlihat spesial di mata bapak, ya?”
Pak
Pur :
“Spesial? Spesial apanya? Salah iya. ‘kan sudah saya bilang urutan bab
dua itu isi bukan penutup. Kamu malah buatnya terbalik, bab dua penutup, bab
tiga isi. Harusnya bab dua isi dan bab tiga penutup. Wong edan. Perhitungan
kamu dalam makalahnya juga salah, aduh gimananya kamu ini Ray, Ray.”
Ray
: “Pak”
Pak
Pur : “Apa?
Kenapa kamu tutuo-tutup muka?”
Ray
: “Basah Pak.”
Pak
Pur : “Oh,
maaf. Saya lupa.” (Mengelap bibirnya dengan lap) “Kalau tidak begini saja. Biar
saya tes kamu cara perhitungan yang cepat. Biar kamu cepat tanggap. 3x3, 3x6,
78x8, 4x120, 80x120:89-0+70-5 berapa?”
(Ray hanya bengong)
Pak
Pur : “Kalau
tidak begini saja, 5xtamboh sama dengan?”
Ray
: “Nah, kalau itu saya tau Pak. Kenyang ‘kan jawabannya.”
Pak
Pur : “Kalau
itu enggak heran saya.”
Ray
: “Hehehe. Soal makalah itu Pak? Maaf ya Pak. Saya silap kemarin waktu buatnya
Pak.”
Pak
Pur : “Oh,
kalo silap tak apa, saya maafkan. Lain kali jangan dibuat lagi ya.”
Ray
: “Iya Pak. Oh iya Pak satu lagi.”
Pak
Pur : “Apa?”
Ray
: (Menghindar) “Tolong di lap dulu bibirnya. Muncrat ke mana-mana kayaknya.”
Pak
Pur : “Oh
iya, saya lupa.”
Ketika jam perkuliahan telah selesai sebagian dosen dan siswa pulang. Ketika
Pak Pur hendak pulang, di kantin depan ia melihat Pak Ben sedang duduk
sendirian sambil bermain handphone. Pak Pur mendekatinya lalu mengurungkan
niatnya sesaat untuk pulang ke rumah.
Pak
Pur :
“Sendirian aja toh Pak Ben.”
(Pak Ben melongo melihat handphonenya tiba-tiba saja sudah ada air yang
mencipratinya. Setelah ia tahu asal suara itu, tak heran siapa orangnya. Dia
hanya bisa melongo.)
Pak
Ben : “Iya Pak Pur.
Bapak nampaknya mau pulang.”
Pak
Pur :
“Tadinya iya Pak. Tapi, melihat bapak duduk sendiri di sini jadi enggak tega
saya. Biar saya temani sebentar.”
Pak
Ben : “Ah, tak usah
lah Pak. Bapak pulang saja.”
Pak
Pur : “Oh,
tak apa lah Pak. Enggak usah segan-segan.”
Pak
Ben : (Tersenyum
meringis) terserah Bapak saja lah.”
Mba
Atul : “Mau pesan apa Pak
Dosen?”
Pak
Pur : “Oh,
ada apa saja toh Mba?”
Mba
Atul : “Banyak. Mau makanan
atau minuman?”
Pak
Ben : “Saya
minuman. Ada minuman apa aja Mba?”
Mba
Atul : (Menarik nafas) Air
putih ada, teh manis ada, teh pahit, TST, teh panas, teh dingin, teh tarik, teh
celup juga ada. Es kosong ada, es manis ada, es krim ada, es teller, es buah
juga ada. Kopi panas, kopi dingin, kopi susu, kopi luak, kopi saschet, es kopi
blend, kopi tawar juga ada. Susu tawar ada, susu kaleng, susu saschet, susu
bubuk, susu kedelai, susu sapi, susu bear brend, susu coklat dingin, panas juga
ada. Mau yang mana?”
(Pak Ben dan Pak Pur hanya bisa bengong sesaat)
Pak
Pur : “Saya
pesan susu coklat dingin aja toh Mba.”
Mba
Atul : “Satu aja Pak dosen?”
Pak
Ben : “Saya juga.”
MbaAtul
: “Oke. Jadinya dua ya Pak. Sebentar ya Pak.”
Pak
Ben : “Iya Mba.
Pak, Pak Ben kok mirip film Upin, Ipin yang sering ditonton sama anak saya ya
Pak.”
Pak
Ben : “Biasa itu
Pak.”
Pak
Pur :
“Haduh….”
Pak
Ben : “Kenapa Pak.”
Pak
Pur : “Iya,
eeee….”
Pak
Ben : “Oh iya. Kalo
si Ray memang beangkerok di kelas Pak. Jadi tak usah heran.”
Pak Pur
: “Lho, bapak kok bisa tahu saya ceritakan dia?”
Pak
Ben : “Terlihat
jelas di wajah Bapak.”
Pak
Pur : “Dia
itu betul-betul biang keladi plus biang minyak wangi Pak. Sebelumnya saya udah
pernah kasih tahu bagaimana cara penyusunan makalah yang benar. Tapi tetap saja
tidak ada perubahan. Ter....”
Pak
Ben :
“Hussst…tolong di lap Pak. Hujan”
Pak
Pur : “Oh
iya, saya lupa. Terus saya juga udah kasih tahu rumus.”
Pak
Ben : “Rumus? Rumus
apa itu Pak?”
Pak
Pur : “Rumus
perhitungan 3x3, 3x6, 78x8, 4x120, 80x120:89-0+70-5 berapa? Dia tak tahu juga.”
Pak
Ben : “Bah, terus.”
Mba
Upe : “Permisi, ini susunya
Pak.”
Pak
Pur :
“Makasih toh Mba. Ayo Pak, silahkan di minum.” (Tanpa sengaja saat berbicara
tadi air liur Pak Pur muncrat ke susunya Pak Ben.) “Terus ya saya tanya lagi
lima kali tamboh sama dengan apa. Bapak tahu? Ya kenyang toh Pak.”
Pak
Ben : “Pak Pur,
kayaknya susu saya udah enggak steril, higienis, bermutu dan terjamin
kesehatannya. Udah tercemar sama hujan lokal.”
Pak
Pur : “Enggak
hujan kok Pak Ben, sekali-sekali diminum juga ‘kan enggak apa Pak biar sehat.
Oh iya, Bapak tahu nggak bapak saya dulu pernah foto bareng sama Soekarno masa
penjajahan dulu lho, beliau juga kenal sama Meriline Monrow.”
Pak Ben`
: “Bah, bah, bah. Apanya Bapak ini, tadi rumus tak jelas, lima kali tamboh
kenyang, biang keladilah, ini foto-foto sama Soekarno pula. Pake acara kenal
Meriline Monrow. Saya pacarnya Monrow. Cerita tak nyambung yang ada sambung
menyambung. Sekarang susuku pula kena vitamin Z darimu. Bisa over dosis lah aku
kau buat. Pur… Pur…”
Pak
Pur : “Lho,
mau kemana Pak Ben? Saya belum selesai bicara toh Pak.
Pak
Ben : “Pergi
jauh-jauh.”
Pak
Pur :
“Susunya di bayar dulu lho Pak.”
Pak
Ben : “Susuku
bayarnya sama mu. Aku belum minum udah kau kasih gas beracun.”
Pak
Pur : “Pak.
Tunggu saya, saya mau lanjutkan ceritanya lho.”
Mba
Atul : “Pak, Pak. Susuku,
susuku belum di bayar.”
Pak
Pur : “Susuku
bayar pake susumu dulu.”
Mba
Atul : “Rugi lagi toh.”
Mba
Upe : “Kenapa sih Mba kok
ngomel-ngomel sendiri.”
Mba
Atul : “Dosen-dosen tadi pada
enggak bayar susu kita.”
Mba
Upe : “Oh, enggak bisa
dibiarkan ini. Mentang-mentang dosen mau hutang gratisan. Hey, Pak dosen. Bayar
dulu susu-susu kami. Susu kami mahal lho. Bisa rugi. Oi, bayar susuku…”
Ray
: “Apalah ibu nih. Susu-susuan.”
Di parkiran depan kampus tampak Mai sedang menunggu Ray karena sudah janjian
akan pulang bareng. Namun, di seberang jalan tampak seorang preman yang
diragukan kepremanannya tengah memperhatikan Mai dan tas miliknya yang
diselempangkan di sebelah kanan begitu saja.
Sang preman memperhatikan jalanan yang lenggang dan sepi lalu mendekati wanita
itu. Hm, ada apa ya?
Bayu
: “Mau pulang ya kak?”
Mai
: “Iya bang.”
Bayu
: “Nunggu temannya?”
Mai
: “Iya.”
Bayu
: “Cewek apa cowok?”
Mai
: “Cowok.”
Bayu
: “Oh, yang itu ya?”
Mai
: “Mana?”
Sreeeettt…
Dengan satu tarikan mulus tasnya di rampas oleh sang preman.
Mai
: “Oi, copet woi. Tolong, tolong.”
Tiga langkah berlari sang copet tergelincir, ketika akan bangkit ia kembali
terjatuh.
Mai
: “Hah! Makanya jangan lari-lari, jatuh ‘kan? Tu lah jangan beraninya sama
tasnya aja, orangnya nih hadapi.”
Bayu
: “Ampun Kak. Ampun..”
Mai
: “Dasar! Sweper.”
Bayu
: “Heh? Sweper? Sapa tuh? Merek makanan ya kak.”
Mai
: “Bukan! Sweper tu pencuri jahat di filmnya Dora the explorer lho.”
Bayu
: “Oh. aduh.. Ampun. Eh, kak kawannya mannggil tuh.”
Mai
: “Mana? Yah, tuh copet lari. Sialan tuh copet. Bahaya nih kalo misalnya masih
nunggu si Ray disini. Sorry ya Ray, awak balik diluan. Dari pada awak dicopet
lagi.”
Di kantin Ray duduk sendirian meratapi milk shakenya. Ayu yang tak sengaja
melihatnyalalu mendekatinya dan duduk di depannya.
Ayu
: “Ngapai? Sendirian aja?”
Ray
: “Enggak ngapa-ngapai lagi suntuk aja. Tadinya sih nungguin si Mai, tapi tuh
anak entah kemana.”
Ketika Ayu dan Ray sedang asyik ngobrol. Sang preman tak sengaja lewat dan
melihat dompet Ray. Ia pun mendekati ray dan duduk di belakangnya. Diam-diam
tangannya menarik dompet itu dari sakunya.
Bayu
: “Sasaran empuk kedua kalinya. Wehehehe.”
Setelah berhasil mengambil dompet dari saku Ray sang preman pun pergi dari
tempat itu.
Ray
: “Lho, kok cepat kali baliknya bang? Enggak pesan dulu?”
Bayu
: “Ah, enggak. Cuma duduk bentar a…”
Bruuuukkk….
Ia menabrak tiang di depannya karena tidak melihat ke depan ketika berjalan.
Mereka tertawa.
Ayu
: “Owalah, hati-hati makanya bang, kalo jalan.”
Bayu
: “Oh, iya Kak. Aduh.. aduh.. kok bisa sial sampe dua kali lah ya. Sial…
sial..!?”
Ray
: “Pulang yok Yu.”
Ayu
: “Oh, ya udah. Ayo.”
Ray
: “Lho, dompet awak mana ya Yu?”
Ayu
: “Di kantong celana?”
Ray
: “Enggak ada Yu..”
Ayu
: “Di tas?”
Ray
: “Enggak ada juga. Alah lah, kemana lah tuh dompet larinya. Udah enggak betah
lagi sama awak ya. Entah apa lah nih dompet, pake acara ngilang segala macam
jin tomang.”
Ayu
: “Pinjam uang Ayu aja dulu.”
Ray
: “Enggak enak lah Yu. Cemana lah ongkos ancot awak ya.”
Ayu
: “Udah, enggak apa. Dari pada pulang jalan. Hayo, pilih mana?”
Ray
: “Oh, iya juga. Iya deh, tapi ikhlas ‘kan?
Ayu
: “Iya, ikhlas.”
Dua bulan kemudian, hal mengejutkan pun terjadi. Saat-saat yang paling
mendebarkan dan paling di tunggu-tunggu oleh semua orang. Duh, apa ya itu?
Finna
: “Semuanya siap-siap, kembali ke posisi.”
Dani
: “Jangan nafas, jangan nafas.”
Anisa
: “Huss, kalo kita enggak nafas. Mati semua atuh akak. Cemewew”
Dani
: “Oh iya, lupa. Hehee.”
Mai
: “Bersikap seperti biasa.”
Ray
: “Ayu, aku mau ngomong something penting nih.”
Ayu
: “Mau pinjam uang?”
Ray
: “Heh? Pinjam uang? Bukan pinjam uang Ayu. Awak mau bilang, kalo. Hm,
Ayu.”
Ayu
: “Ngajakin pulang bareng?”
Ray
: “Bukan! Hadeh, Ayu yang ngomong apa awak yang ngomong nih?”
Ayu
: “Hehehehe, Ray aja deh.”
Ray
: “Yu, Ayu mau nggaj jadi pacar awak?”
Ayu
: “Hm, gimana ya. Maaf ya, soalnya selama ini aku udah suka sama orang lain.”
Ray
: “Oh, gitu
ya? Maaf ya.”
Ayu
: “Kamu tahu nggak siapa cowok itu Ray?”
Ray
: “Enggak, emangnya sapa? Tapi itu nggak penting. Yang penting sekarang, semoga
kamu bahagia sama dia ya.”
Ayu
: “Ih, gimana sih. Enggak liat sinyal ya?”
Ray
: “Sinyal di hp aku penuh kok, enggak ada gangguan. Emangnya sinyal di
handphone Ayu enggak ada ya?”
Ayu
: “Ih, oon banget sih. Sinyal cinta lho. Orang yang aku suka itu kamu. So, aku
mau kok jadi pacar kamu. Tapi kenapa nih bunga cuma tangkainya doang sih?”
Ray
: “’Kan kamu udah jadi bunganya,”
Ayu
: “Ih, gombal.”
Seluruh siswa : “ Selamat ya. Huhuyy.”
Pak
pur : “Hey.
Ada apa ini ribut-ribut?”
Ray
: “ini Pak, ada yang jadian.”
Dani
: “Owalah, Ray… Ray… kau yang ja…”
Pak
Pur : “Siapa?
Siaapaa yang jadiaaaaann!!”
Seluruh Siswa : “Sssssiiiiiaaaallll…”
(Karya: Mahasiswa PBSID C, STKIP Budidaya Binjai T.A. 2013/2014)